Kamis, 29 Agustus 2013

Masihkah kita?

"Jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya"

Ia kembali memperbaiki posisi kacamatanya, mencari-cari sosok yang sangat ia kenal. Hari ini adalah pertemuan pertamanya dengan lelaki itu, setelah 2 bulan terpisah karena jarak dan banyak permasalahan diantara mereka. Dia kembali mempercepat langkah, hingga akhirnya ia melihat lelaki dengan kemeja panjang berwarna biru. Ingatannya tentang Deo masih sangat kuat, tentang laki-laki yang muncul dikehidupannya sejak 2 tahun yang lalu. Biru adalah warna favorite Deo, sebelum laki-laki itu mendekat aroma badan Deo pun masih terekam jelas di indra penciumannya.

"Sebelumnya kita tidak pernah secanggung ini"

"Hei."
"Hei, nunggunya udah lama?"
"Lumanyan."
*suasana kembali hening
"Ini buat kamu."

Ara ingat sebelum kepulangannya, Deo memang pernah mengatakan ingin memberikan sesuatu kepadanya tapi ia tidak menyangka jika yang dimaksud oleh Deo adalah boneka favoritenya. Ia masih ingat, dulu ia pernah merengek-rengek minta untuk dibelikan boneka namun kekasihnya dengan jelas menolak.

"Aku pengen deh kayak temen-temen aku, dapat boneka dari pacar. Kalo tidur bisa bareng terus dipeluk, kan lucu."
"Apaan boneka-boneka, kamu itu udah gede loh masih aja seneng boneka-bonekaan. Kalo mau minta yang lain aja jangan boneka."

Dia memang 5 tahun lebih muda dari lelaki itu. Ketika penyakit manjanya kambuh, kekasihnya selalu mempunyai cara untuk menghadapinya.

"Udah jangan manyun gitu, jelek. Ayok kita makan aja, beli es krim."

Dia tersenyum kecil, saat kembali mengingat kejadian waktu itu. "Terima kasih bonekanya", ucap Ara. Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman dan sedikit anggukan. Tidak banyak perbincangan hingga lelaki itu mengantar sampai dikonrakannya.

"Setelah ini rencana kamu apa?" tanya Ara.
"Aku tidak tahu" jawab lelaki itu.

Sebelumnya mereka sudah merencakan banyak hal saaat kepulangan Ara dari berlibur, tapi karena kejadian dan permasalahan itu semua yang telah mereka berdua rencakan hancur berantakan.

"Aku ingin makan saja."  ia memecahkan keheningan.
"Ayo makan."  

Lelaki itu memang ada dihadapannya, tapi ia merasa begitu jauh. Dia bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Deo dan Ara juga tahu dengan siapa laki-laki itu berkomunikasi lewat bbm-nya. Seketika mood-nya rusak. Dulu tidak pernah ada suasana hening diantara mereka dan dulu selalu ada tawa diantara mereka. Suasana semakin dingin ketika laki-laki itu mengatakan ingin pulang. Ia begitu kecewa, terlalu banyak perubahan dari laki-laki yang dulu pernah menjadi kekasihnya, mungkin bukan dulu tapi laki-laki ya beberapa hari sebelumnya masih menjadi kekasihnya.

"Masihkah menjadi kita?"

"Aku akan mengantarmu sampai depan, aku juga sekalian ingin keluar."
"Kamu mau kemana."
"Jalan-jalan."
"Ngapain kamu sendirian, istirahat kamu baru sampai."
"Ga, aku pengen nikmatin suasana aja, lagian aku udah lama ninggalin kota ini."
"Aku temenin."
"Bukannya kamu mau pulang?"
"Udah."

Ia tersenyum. Setidaknya ia tahu bahwa laki-laki itu masih mengkhawatirkannya. Ara tidak ingin Deo segera pulang tapi ia juga tidak mempunyai keberanian untuk menahan Deo bersamanya. 

"Aku mau nonton."
"Film apaan?"
"One Direction ya?"
*lelaki itu mengangguk

Ia masih bisa merasakan ketulusan laki-laki itu, walaupun saat ini ia yakin masih ada perempuan itu diantara mereka. Ara hanya ingin melepaskan rindunya, ia memasang tameng. Lelaki itu dulu begitu menghargainya, ketika bersamanya, Deo tidak pernah memegang handphone tapi kali ini ia harus beradaptasi dengan Deo yang baru.

"Jangan meminta jawaban dari mulut tapi lihat sendiri jawaban itu dimataku."

"Kita bisa bersama-sama lagi?"  Kata-kata itu aku dengar langsung keluar dari mulutmu, dan aku tidak mampu berkata apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar