Senin, 19 Agustus 2013

Lihat ke dalam Matanya

"Aku tidak perduli, mungkin sekarang kau berpikiran buruk tentangku atau mungkin memang selama ini kau selalu berpikiran seperti itu terhadapku. Terserah kau saja! Setidaknya aku bisa melakukan ini, aku bisa mengeluarkan kata-kata yang seharusnya sejak lama ku perdengarkan ke telingamu. Aku puas, ya aku sangat puas. Kau memang pantas mendengarnya, kau sangat pantas mendengarkannya", hatinya seolah berkata sambil berteriak ketika dia kembali mengingat pembicaraanya dengan lelaki itu.


"Aku ingin kita kembali bersama, bersama-sama mewujudkan mimpi kita."

"Aku memang sudah memaafkanmu, tapi kau pikir, semudah itukah aku bisa menerimamu kembali?"

"Aku sungguh menyesal, aku mohon maafkan aku."

"Aku memang sudah memaafkanmu, tapi sudahlah lupakan saja aku, karena aku juga sudah melupakanmu."

"Begitukah keinginanmu?"

"Ya, itulah keinginanku. Kau tidak pernah menyayangiku, sekarangpun aku sudah tidak menyayangimu. Jadi, sudahlah, selesaikan saja."

"Itu keinginanmu? Baiklah, akan ku ikuti tapi jangan pernah kau datang untuk menagih janji padaku."


Dia tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya itu, terlalu keras kepala, terlalu munafik, dan terlalu bersandiwara. Malam itu adalah malam pertama, dia bisa menunjukkan bahwa ia adalah gadis kuat. Mengatakan bahwa ia sudah tidak menyayangi lelaki yang sesungguhnya tidak pernah beranjak dari hatinya.

Aku pernah berbohong, berbohong melawan kenyataan yang ada dihati. "Aku sudah tidak menyayangimu lagi." dengan berkata seperti itu, aku berusaha melindungi diri dari kemunafikan seseorang yang berusaha memanfaatkan kelemahanku.

Gadis itu tersenyum, tersenyum atas kebohongan yang telah ia lakukan. Andai saja ada seseorang yang melihat kedalam matanya malam itu, mata yang berusaha menolak ucapan yang keluar dari mulut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar