Kamis, 15 Agustus 2013

Kau katakan INTROPEKSI?

"Jalan seperti apa yang kau maksud sendiri-sendiri?"

 Ketika kau mengambil keputusan, aku hanya bisa menerima dengan perasaan kecewa yang teramat dalam. Ingin menolak tapi tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Tegar! Tepatnya berusaha tegar dengan apa yang sedang aku rasakan. Kau menghilang dan kau merasa bebas, lepas dariku. Sebegitu mengerikannyakah aku?

"Aku ingin kita intropeksi diri karena kau masih kekanak-kanakan."
"Aku hanya berusaha untuk tidak mengingkari janjiku, aku tidak akan meninggalkanmu, aku masih tetap berada disampingmu." - Perkataanmu selalu bisa berubah setiap waktu.

"Kau selalu punya cara agar aku tetap diam."

Berusaha terlihat tegar tapi tak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan. Saat kau memutuskan jalan sendiri, namun tiba-tiba kau bersikap biasa saja, seolah-olah tak pernah ada jarak diantara kita. Intropeksi seperti apa yang kau maksud? Aku katakan aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Aku ingin melepaskan diri karena luka itu terus kau buat, dengan atau tanpa kau sadari. Perkataan dan tindakanmu yang seolah-olah seperti bayi tanpa dosa itu, sudah banyak membuat sayatan digumpalan darah yang ada ditubuhku. Namun, kau selalu bisa membuatku untuk tetap diam. Diam menahan sakit itu sendirian saat kau tiba-tiba bersikap seolah seperti anak kecil yang tersenyum manis, sehingga membuat orang tidak mampu marah karena senyum itu. Sikapmu yang tak pernah aku ketahui, ketulusan kah atau hanya ... ? Ntahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar