Selasa, 30 Juli 2013

Selalu Ada Kata "Aku Memaafkanmu"

"Apakah aku terlalu naif?"

"Maafkan aku atas semua hal yang telah terjadi kemarin." kata-kata itu terdengar ringan keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan berkata dalam hati "semudah itu kau mengeluarkan kata maaf atas semua luka yang telah kau buat". Hati tidak bisa dibohongi dan akupun tidak mempunyai alasan untuk tidak memaafkannya.

"Kita mulai lagi semua dari awal" katanya.

"Aku akan memperkenalkanmu pada orangtua ku. Aku ingin menjalankan sesuatu yang mempunyai tujuan, aku ingin kita menjadi satu nantinya. Jika kau tidak bisa memasak, kamu bisa sambil belajar, aku ingin istriku yang memasak untukku. Kau ingin ada pembantu nanti? Boleh saja tapi jangan terlalu mengandalkan orang lain, selagi kamu bisa melakukannya, lakukanlah seorang diri. Kau hanya ingin mempunyai seorang anak laki-laki nantinya? Aku ingin DUA, satu anak laki-laki yang akan menemaniku bermain PS dan satu anak perempuan yang akan menemanimu. Jadilah seorang istri yang baik nantinya, yang patuh terhadap suami." Pembicaraan serta impian yang terlalu jauh dan berat, tapi itulah kami berdua. Kami mempunyai mimpi dan harapan bersama. Walau terkadang pembicaraan itu terdengar berlebihan, menggelikan saat dia mengatakan "aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak ingin orang lain yang memilikimu." :) 

Si hidung besar dan mata sipit. Dulu sering terjadi pertengkaran diantara kami, Ya.. pertengkaran besar pun pernah kami lalui. Namun kali ini kami belajar dari hubungan sebelumnya, mendewasakan sikap agar pertengkaran itu tidak terjadi dan tidak berakhir dengan perpisahan lagi.

"Aku mempercayai  apa yang aku rasakan, i have a very strong feeling"

Sampai hari itu tiba. Aku tidak tahu perasaan yang mengganggu dihati datang sejak pagi itu, perasaan  yang bercampur aduk dan aku yakin pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Hingga malam itu, aku mengetahui, aku tahu ada sesuatu dari suaranya, aku tahu pasti tentang "itu" . Ah, sudahlah malam itu aku pasrah mendengar semua yang dia ucapkan, air mata masih aku bendung dipelupuk, aku tarik nafasku panjang. Menyakitkan. Dia memintaku untuk bersikap dewasa mendengarkan semua apa yang dia katakan, maka akupun menahan sakit yang semakin terasa itu.

Hingga akhirnya aku mendengar nada suaranya, aku mendengar nafas tanda kepasrahannya. Bendungan itu pecah, aku tidak bisa lagi menahan air mata yang semakin banyak keluar. Aku pasrahkan semua, aku ikhlaskan demi dia. Kepergian dia kali ini, aku ikhlas :')
Tengah malam. Aku tersadar dari tidur, aku coba untuk terlelap, dan pada akhirnya aku tersadar lagi. Sebelum aku benar-benar terlelap, ku pandang dua sosok yang ada di layar handphone, sosok yang berada disebelah gadis itu telah pergi.

Subuh itu aku tersadar saat handphone berbunyi, namanya tertera. Suara yang selalu membuat aku tenang itu terdengar lemah sekali, aku tidak sanggup berkata apa-apa, karena masih terasa luka itu.
Dia mengirimkan pesan yang berisi permintaan maaf, ungkapan perasaan, dan ketakutannya. Aku sakit, dan luka tidak bisa sembuh dengan cepat. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku, aku tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat karena rasa sakit dan kecewa masih menemaniku.

"LAGI dan LAGI, akupun tidak mempunyai alasan untuk tidak memaafkannya."

Orang lain tidak bisa melihat seperti apa yang aku lihat. Aku tidak pernah memandangnya rendah, seperti apa yang orang lain pikirkan tentang dia karena mereka hanya melihat dengan kasat mata. Tapi aku, aku mempunyai keyakinan sendiri yang ada didalam dirinya.

Aku buang semua ego, aku sembunyikan rasa sakit dan kecewa itu. Aku menganggap ini hanyalah ujian untuk kami, ujian sebelum kami benar-benar sampai kejenjang yang lebih serius. Tapi dia telah menghilang, aku tidak tahu dimana tempat persembunyiannya. Dia hilang tanpa mengucapkan sepatah katapun...
Lalu bagaimana denganku? Bencikah? Dendamkah? TIDAK...! Aku masih tidak mempunyai alasan untuk tidak memaafkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar